Jumat, 17 Januari 2014

PKS PIYUNGAN

PKS PIYUNGAN


Karena Pengabdian, Masyarakat Beri "Gelar Kehormatan" untuk Kader Wanita PKS ini

Posted: 17 Jan 2014 03:30 PM PST


Susilawati, 40 tahun. Dia kader wanita PKS di desa Sukmajaya di wilayah Bogor. Entah mengapa tiba-tiba kader PKS ini dipanggil guru dan dokter oleh warga masyarakat. Padahal dia tidak mengajar di sekolah formal dan dia juga tidak pernah mengecam pendidikan dokter apalagi membuka praktek.

Dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tiap hari berkuat dengan persoalan rumah tangga. Tidak ada yang istimewa dengannya. Hanya saja disela-sela kesibukan rumah tangga dia menjadikan rumahnya sebagai taman bermain untuk anak-anak usia dini.

Orang-orang yang tidak mampu di sekitar rumahnya yang tidak mampu menyekolahkan ke PAUD dan TK pasti menitipkan anak-anaknya di rumahnya. Anak-anak yang bermasalah secara psikologi dan intelektualnya selalu dititipkan di rumahnya karena PAUD dan TK yang formal tidak menerima anak tersebut sebagai peserta didiknya.

Ditengah kemiskinan orang tuanya dan ditengah kekurangan sisi psikologi anak didiknya kader PKS ini selepas membereskan pekerjaan rumah tangga membuka pintu rumahnya untuk mendidik anak-anak tersebut. Ya.. sudah hampir 11 tahun dia melakukan pekerjaan ini. Orang tua murid dibebaskan untuk membayar berapapun sesuai kemampuannya.

Dengan ketekunannya ini, warga masyarakat sekitar sekarang memanggilnya sebagai Ibu Guru. Entah siapa yang mulai memanggil panggilan tersebut. Namun sekarang, bila dia melewati kerumunan anak-anak atau ibu-ibu mereka selalu memanggil kader PKS itu sebagai ibu Guru.

Ditengah kesibukannya pada hari Sabtu-Ahad, dia masih menyempatkan belajar pengobatan alternatif. Dia pun aktif praktek terapi di bawah bendera Rumah Sehat Iqra Bandung.

Dia belajar untuk menyalurkan dan meningkatkan bakat-bakat alami yang diturunkan dari nenek moyangnya. Dulu.. uyutnya dikenal sebagai dukun di desanya.

Setelah belajar dan cukup lama praktek di bawah lembaga Rumah Sehat Iqra, dia pun mulai berani menterapi ibu-ibu dari murid-muridnya. Informasi ini segera menyebar ke warga masyarakat. Akhirnya ibu-ibu tersebut banyak yang curhat tentang kondisi kesehatan saudara-saudaranya.

Mendengar curhatan tersebut, sang kader PKS pun mulai blusukan. Awalnya setelah mengajar selalu disempatkan untuk merapihkan rumahnya untuk menyambut anak-anaknya yang pulang sekolah. Namun sekarang selepas mengajar di rumah, sang kader PKS ini mulai belusukan ke rumah warga yang sakit.

Daya juang yang kuat, ketekunan dan kesabarannya dalam menterapi warga inilah, akhirnya saat dia sedang menterapi warga yang terkena kanker payudara, seseorang anggota keluarganya memanggilnya ibu dokter. Sang kader hanya tersenyum mendengar panggilan tersebut.

Mungkin melihat karena warga yang terkena kanker payudara tersebut mulai membaik sehingga mereka mulai percaya akan terapi yang dilakukannya.

Ya.. itulah kisah seorang Ibu rumah tangga biasa yang akhirnya dipanggil Ibu Guru dan Ibu Dokter. Entah siapa yang memulai namun itulah realita panggilan warga untuknya. (Nasrulloh Mu)

*sumber: Kompasiana


Ketika ODOJ Dituduh Riya'

Posted: 17 Jan 2014 03:00 PM PST


Oleh Farid Numan Hasan

Patut disyukuri, itu yang kami komentari dari fenomena ODOJ (One Day One Juz) ini. Perkembangannya begitu cepat bahkan sampai ke mancanegara hanya dalam hitungan beberapa bulan. ODOJ merupakan  program, lebih tepatnya metodologi, agar orang bisa dan terbiasa, mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali. Dengan izin Allah Ta'ala, para odojers ini dipertemukan dalam tujuan yang sama ingin mengkhatamkan Al Quran secara konsisten. Mereka mendapatkan bi'ah (lingkungan) yang baik walau tidak saling jumpa, mereka bisa saling mengingatkan, nasihat, menjaga semangat, dan tidak ada kepentingan apa pun kecuali Al Quran. Banyak kisah-kisah inspiratif dari para odojers, mereka begitu menikmatinya.
  
Upaya mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali, merupakan salah satu jenis usaha  menjalankan perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berikut ini:

اقْرَإِ القُرْآنَ فِي شَهْرٍ
  
Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam satu bulan. (HR. Al Bukhari No. 5054, dari Abdullah bin Amr)
  
Maka, menjalankan sunah qauliyah dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ini, di tengah manusia banyak yang melupakan Al Quran, lupa dengan sunah, dan lupa dengan agamanya secara umum,  merupakan usaha yang sangat luar biasa, dan tidak mudah. Ini mesti didukung dan dikuatkan, bukan justru dicemooh   dengan dasar asumsi semata, dengan menganggapnya riya, terpaksa, dan memberatkan. Kalau pun ada yang tergelincir dalam riya, atau dia terpaksa, maka hal tersebut kembali ke pribadinya masing-masing dan hubungannya dengan Allah Ta'ala. Ketergelinciran personal ini bukan hanya terjadi pada aktifitas membaca Al Quran, tetapi bisa terjadi pada haji, shalat, shaum, memberikan muhadharah, menulis, dan sebagainya. Semua ini bisa saja ada orang yang riya dan terpaksa. Tetapi bukan berarti semua amal ini menjadi jelek, dicemooh, dan dianulir, hanya karena ada person-person yang dijangkiti riya atau terpaksa.
  
Yang jelas, kami ingin mengapresiasi ODOJ ini dengan sebuah hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
         
"Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka." (HR. Muslim, No. 1017, At tirmidzi No. 2675, An Nasa'i No. 2554, Ibnu Majah No. 203, Ahmad No. 19156)

Menampakkan Amal Shalih? Silahkan!
  
Amat disayangkan adanya seorang penulis yang begitu bersemangat mengkritik ODOJ dengan alasan "menampakkan amal." Dengan mengutip hadits tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah Ta'ala, di antaranya seorang yang bersedekah dengan tangan kanan tetapi tangan kirinya tidak tahu. Maksudnya orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi, yang dengannya lebih mudah untuk ikhlas.
  
Tidak hanya itu,  penulis tersebut juga memaparkan kebiasaan sebagian salaf yang lebih suka menyembunyikan amal shalih mereka, dan mereka malu jika menampakkan kepada orang lain. Ada ulama yang ketika membaca mushaf, langsung ditutupnya ketika ada orang yang melihatnya karena dia tidak mau orang tahu bahwa dia sedang membaca Al Quran, dan seterusnya. Padahal semua dalil yang dipaparkannya tak satu pun menunjukkan larangan menampakkan amal shalih,  melainkan menganjurkan pilihan yang lebih aman dan keutamaan menyembunyikan amal shalih.
  
Kita mengetahui bahwa dalam ODOJ, masing-masing anggota melaporkan hasil bacaannya kepada penanggung jawab bahwa dia sudah menyelesaikan bacaannya, atau dia sedang sakit, atau muslimah yang haid, yang dengan itu tidak bisa menyelesaikan, dan seterusnya.    Barangkali inilah yang menjadi sebab bahwa cara ODOJ ini seakan tidak syar'i, tidak sesuai sunnah.
  
Tidak ada dalilnya, baik Al Quran dan As Sunnah, menganggap menampakkan amal itu suatu yang buruk, tercela, dan terlarang,  justru kadang  menampakkan lebih baik dalam rangka menstimulus orang lain. Dengan itu dia bisa menjadi inisiator sunah hasanah yang diikuti banyak orang. Apalagi dalam keadaan terasingnya sebuah sunah di masyarakat, atau terasingnya kebiasaan baik, maka kembali menghidupkan dan mensyiarkannya secara terang-terangan adalah suatu yang mulia dan memliki keutamaan, sebab dia menghidupkan ajaran Islam yang tengah redup. Ada pun keadaan hati si pelakunya, apakah dia riya, ikhlas, sum'ah, de el el,  serahkan kepada Allah Ta'ala, dan seorang muslim hendaknya berbaik sangka kepada saudaranya, bukan justru melemahkan dengan menyebutnya sebagai amal yang sebaiknya disembunyikan!

Allah Ta'ala Memuji Amal yang terang-terangan dan tersembunyi
  
Kita akan dapatkan dalam pelita hidup setiap muslim, wahyu yang tidak ada keraguan di dalamnya, yang semua isinya adalah haq, yaitu Al Quran Al Karim, tentang anjuran beramal baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Kedua cara ini memiliki ketumaan masing-masing. Tidaklah yang satu mendestruksi yang lain. Ini hanyalah masalah pilihan, yang keduanya sama-sama bagus.
  
Kami akan sampaikan beberapa ayat tentang pujian Allah Ta'ala dan perintahNya kepada manusia untuk berinfak secara tersembunyi atau terang-terangan.

Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah 274)

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

هذا مدح منه تعالى للمنفقين  في سبيله، وابتغاء مرضاته في جميع الأوقات من ليل أو نهار، والأحوال من سر وجهار، حتى إن النفقة على الأهل تدخل في ذلك أيضا

Ini adalah sanjungan dari Allah Ta'ala bagi para pelaku infak dijalanNya, dan orang yang mencari ridhaNya disemua waktu, baik malam dan siang, dan berbagai keadaan baik tersembunyi atau terang-terangan, sampai – sampai nafkah kepada keluarga juga termasuk dalam kategori ini. (Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 1/707. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah.)
  
Ayat lainnya:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (QS. Ar Ra'du: 22)

Ayat lainnya:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan." (QS. Ibrahim: 31)
   
Lihat ayat ini, Allah Ta'ala memerintahkan berinfak baik secara sembunyi atau terang-terangan,  Allah Ta'ala tidak memerintahkan yang sembunyi saja, tapi juga memerintahkan yang terang-terangan. Tidak mencelanya, justru memerintahkannya.
  
Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وأمر تعالى بالإنفاق مما رزق في السر، أي: في الخفية، والعلانية وهي: الجهر، وليبادروا إلى ذلك لخلاص أنفسهم
  
Allah Ta'ala memerintahkan untuk berinfak secara as sir, yaitu tersembunyi, dan al 'alaaniyah yaitu ditampakkan, dan hendaknya mereka bersegara melakukan itu untuk mensucikan diri mereka. (Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 4/510. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah)
  
Terang-terangan atau tersembunyi, keduanya bisa dilakukan pada amal yang wajib atau sunah. Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di Rahimahullah:

سِرًّا وَعَلانِيَةً} وهذا يشمل النفقة الواجبة كالزكاة ونفقة من تجب عليه نفقته، والمستحبة كالصدقات ونحوها
  
(Tersembunyi dan terangan-terangan) hal ini mencakup infak yang wajib seperti zakat, dan nafkah kepada orang yang wajib baginya untuk dinafkahi, dan juga yang sunah seperti berbagai sedekah dan semisalnya. (Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir  Kalam Al Manan, Hal. 426. Cet. 1. 2000M/1420H. Muasasah Ar Risalah)
  
Maka, berinfak –atau amal shalih apa saja- yang dilakukan secara tersembunyi dan menampakkannya, telah dimuliakan, dipuji, dan dianjurkan oleh Allah Ta'ala. Janganlah hawa nafsu manusia justru menganggap tercela yang satu dibanding yang lainnya. Jika tersembunyi, maka itu mulia karena hati Anda lebih selamat dari 'ujub, riya', jika terkait sedekah maka orang yang menerima sedekah tidak merasa malu menerimanya. Jika terang-terangan, maka itu juga mulia, karena Anda bisa menjadi pionir kebaikan, menjadi contoh buat yang lain, sehingga selain Anda mendapatkan pahala sendiri, Anda juga mendapatkan pahala mereka lantaran mereka mengikuti kebaikan Anda.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun memuji orang yang menampakkan amalnya
  
Alangkah baiknya jika ini juga diketahui oleh penulis tersebut. Jangan hanya menampilkan satu gambaran tentang para ulama yang sembunyi-sembunyi membaca Al Quran, tapi lupa menampilkan yang lainnya. Para sahabat nabi pun menampakkan amalnya, dan nabi tidak mencelanya justru memujinya. Telah masyhur

Para salaf jika berkumpul, mereka memperdengarkan salah seorang mereka untuk membaca Al Quran. Mereka tidak mengatakan, "Pelan-pelan aja suaranya, banyak  orang nih, nanti kamu riya." Ada pun para ODOJers, mereka membacanya masing-masing di rumah, tidak berjamaah, kadang dikantor, kadang di kendaraan, itu pun tanpa mengeraskan suara, sehingga tidak ada yang terganggu dengan suara mereka.
  
Imam An Nawawi Rahimahullah memaparkan:

اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون وهذا متفق على استحبابه وهو عادة الأخيار والمتعبدين وعباد الله الصالحين وهى سنة ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
  
Ketahuilah, banyak perkumpulan para salaf dahulu mereka meminta orang yang ahli baca Al Quran untuk membaca dengan suara yang bagus, mereka membacanya dan yang lain mendengarkannya. Ini disepakati sebagai hal yang disukai, dan merupakan kebiasaan orang-orang pilihan dan ahli ibadah, hamba-hamba Allah yang shalih. Dan, itu merupakan sunah yang pasti dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam…. (lalu Imam An Nawawi menyebutkan kisah Abdullah bin Mas'ud yang membaca  Al Quran di hadapan nabi dan para sahabat lainnya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim).  (At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, Hal. 113)
  
Lihat ini, justru para salaf meminta untuk menampakkannya, mereka ingin menikmatinya. Begitu pula Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terhadap bacaannya Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu 'Anhu, padahal wahyu turun kepadanya sendiri, tapi beliau ingin mendengarkannya dari orang lain.
  
Lalu Imam An Nawawi melanjutkan:

أنه كان يقول لأبي موسى الأشعري ذكرنا ربنا فيقرأ عنده القرآن. والآثار في هذا كثيرة معروفة
  
Bahwa Nabi berkata kepada Abu Musa Al Asy'ari: "Ingatkanlah kami kepada Rabb kami." Maka Abu Musa membacakan Al Quran dihadapannya. Dan, Atsar-atsar seperti ini banyak dan telah dikenal. (Ibid, Hal. 114)
  
Nah, tak satu pun ada peringatan sesama mereka saat mereka meminta sahabatnya membaca Al Quran, "hati-hati riya ya …", atau "jangan tampakkan suaramu kepada kami ..".

Melaporkan dan menceritakan amal shalih, adalah riya?
  
Dalam komunitas ODOJ, ada penanggungjawab yang menerima laporan harian anggotanya, sudah sampai mana bacaannya, apakah sudah selesai satu juz atau belum. Hal ini tidak mengapa, sebagaimana seorang guru yang menanyakan hasil kerjaan, tugas hapalan, siswanya dan si guru memberikan batas waktu. Ini adalah tuntutan profesionalitas dalam beramal. Ini pun dilakukan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.
  
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bercerita tentang amal shalihnya:

وإني لأستغفر الله، في اليوم مائة مرة
  
Aku benar-benar beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali. (HR. Muslim, 2702/41)
  
Riwayat lainnya:

يا أيها الناس توبوا إلى الله، فإني أتوب، في اليوم إليه مائة، مرة  
  
Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya dalam sehari aku bertaubat kepadaNya seratus kali. (HR. Muslim, 2702/42)
  
Para sahabat pun juga. Perhatikan dialog berikut ini:

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من أصبح منكم اليوم صائما؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن تبع منكم اليوم جنازة؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن أطعم منكم اليوم مسكينا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن عاد منكم اليوم مريضا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اجتمعن في امرئ، إلا دخل الجنة»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Siapakah diantara kalian yang hari ini berpuasa?" Abu Bakar menjawab: "Saya wahai Rasulullah." Rasulullah bertanya lagi: "Siapakah diantara kalian yang hari ini mengantar janazah?" Abu Bakar menjawab: "Saya wahai Rasulullah." Rasulullah bertanya lagi: "Siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?" Abu Bakar menjawab: "Saya wahai Rasulullah." Rasulullah bertanya lagi: "Siapakah diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab: "Saya wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda : "Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga." (HR. Muslim 1028)
  
Inilah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu 'Anhu, dia tidak perlu malu untuk melaporkan apa yang sudah dia lakukan hari itu. Maka, tidak masalah seseorang menceritakan amalnya, yang  penting  tidak bermaksud memamerkannya, dan membanggakannya, tetapi agar orang lain mendapatkan 'ibrah darinya. Pendengar pun tidak dibebani untuk membedah hati orang yang melaporkannya. Itu tidak perlu, tidak penting, dan tidak masyru'. Justru, yang masyru' adalah kita mesti husnuzhzhan kepadanya.
  
Para ulama mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب
  
Berprasangka yang baik kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib. (Imam Badruddin Al 'Aini, 'Umdatul Qari, 29/325)
  
Kisah lainnya:

 عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ ، فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ، وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: " مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي

Dari Jabir bin Abdullah katanya: "Saya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: "Bagaimana tugasmu yang padanya kamu saya utus? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya membalas ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat." (HR. Muslim No. 540, Ahmad No. 14345, Abu Daud No. 926, Abu 'Awanah, 2/140, Ibnu Khuzaimah No. 889, Ibnu Hibban No. 2518, 2519)
  
Dalam kisah ini, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meminta laporan kerja dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'Anhu tanpa harus khawatir riya-nya Jabir jika dia melaporkannya.
  
Banyak sekali kitab yang menceritakan para ulama yang  berkisah tentang ibadahnya, shaumnya, shalatnya, jihadnya, bahkan mimpinya. Tentu kita berbaik sangka, jangan menuduh mereka telah riya dalam penceritaannya.

Menggembos amal shalih dengan menuduh riya adalah Akhlak Kaum Munafiq
  
Inilah yang terjadi, gara-gara seseorang menuduh saudaranya riya, atau menakut-nakuti dari menampakkan amal shalih, akhirnya perlahan-lahan ada yang membatalkan amal shalihnya karena takut disebut riya, takut tidak ikhlas.
  
Inilah yang dilakukan orang munafiq pada zaman nabi, mereka menuduh para sahabat riya, padahal mereka (kaum munafiq) sendiri yang riya.
  
Dari Abu Mas'ud Radhiallahu 'Anhu, dia bercerita:

"Sesudah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka Abu Uqail bersedekah dengan satu sha', dan datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata:

"Allah 'Azza wa Jalla tidak membutuhkan sedekah orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya. Lalu turunlah ayat:

  الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ

"Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya." (QS. At Taubah : 79). (HR. Al Bukhari No. 4668)

Justru Allah Ta'ala menceritakan bahwa kaum munafikinlah yang riya.

Perhatikan ayat ini:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al Ma'un: 4-6)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini menceritakan tentang sifat-sifat orang munafiq; lalai dari shalatnya, sekali pun shalat dia riya.  Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  mengulang sampai tiga kali ucapan: tilka shalatul munaafiq (itulah shalatnya kaum munafik). Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain. (Tafsir Al Quran Al 'Azhim, 8/493)

Maka ... wahai Saudaraku ...

Janganlah kamu melemahkan dan menggembosi amal saudaramu ..., biarkanlah mereka beramal, membaca Al Quran satu juz sehari sesuai target dan program mereka. Karena Nabi kita tidak pernah memerintah kita membedah hati manusia, serahkanlah hati manusia kepada Allah Ta'ala.
  
Adakah kamu ketahui bahwa saudara-saudaramu itu menuntaskan satu juz Al Quran sehari untuk pujian manusia? Mencari popularitas dan kedudukan?
  
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Khalid bin Walid Radhiallahu 'Anhu:

إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
  
Aku tidak diperintah menyelidiki hati manusia dan tidak pula membedah perut mereka. (HR. Al Bukhari No. 4351, Muslim, 1064/144)
  
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga pernah berkata kepada Usamah bin Zaid Radhiallahu 'Anhu:

أفلا شققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا؟
  
"Apakah engkau sudah membedah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?" (HR. Muslim, 96/158)
  
Sederhananya, jangan mudah menyalah-nyalahkan amal shalih saudaramu, yang bisa jadi amal shalih tersebut belum tentu kamu bisa lakukan.
  
Karena Allah Ta'ala berfirman:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. (QS. At Tawbah: 91)

Wahai Saudaraku ……… Arahkan pena-mu ke pelaku maksiat yang terang-terangan, bukan kepada saudaramu yang sedang berlomba amal shalih secara terang-terangan.
  
Alangkah baiknya, penamu itu kamu arahkan untuk mereka yang terang-terangan  beramal buruk, menyimpang, dan maksiat lainnya. Itu semua ada dihadapanmu. Kenapa begitu gagah dihadapan para pelaku kebaikan, tapi layu dihadapan para pelaku kemaksiatan? Allahul Musta'an!

Untuk Para ODOJers ……….
  
Alangkah indahnya nasihat Al Imam Fudhail bin 'Iyadh Rahimahullah:

"Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya." (Ucapan ini tersebar dalam banyak kitab, seperti Minhajul Qashidin-nya Imam Ibnu Qudamah, Tazkiyatun Nufuus-nya Imam Ibnu Rajab, dll)

Janganlah kalian batalkan amal shalih itu karena komentar miring manusia, dan jangan pula kalian lakukan  karena mengharapkan ridha manusia, tetaplah beramal, dan  jangan pernah pikirkan semua komentar yang membuat hati kalian guncang. Urusan kalian adalah kepada Allah Ta'ala bukan dengan mereka. Sibukkanlah hati kalian denganNya, biarlah mereka sibuk  menyelediki  hati kalian, sehingga mereka lupa dengan hatinya sendiri. Sebab di akhirat nanti kullu nafsimbima kasabat rahiinah (setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing).  Memintalah kepada Allah Ta'ala agar tetap dijaga dan selamatkan dari riya dan kesyirikan dalam beramal.
  
Wallahu A'lam Walillahil 'Izzah walir Rasulih wal Mu'minin


*http://www.ustadzfarid.com/2014/01/ketika-odoj-one-day-one-juz-dikritik.html

Sering Hanya Kirim Asistennya, Jokowi Anggap Rapat BKSP Antisipasi Banjir Tidak Penting

Posted: 17 Jan 2014 05:11 AM PST


Kemarin ada yang nonton PrimeTime News MetroTV?

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sudah sering mengajak persoalan banjir diselesaikan bersama dan jangan saling menyalahkan.

Yang menarik, ternyata beberapa kali pemprov Jabar sebagai ketua BKSP (Badan Kerja Sama Antarprovinsi) sudah sering mengundang Gubernur Jakarta Jokowi untuk datang musyawarah. Eeee, yang hadir cuma asistennya...

Liat video cuplikan tayangan PrimeTime News MetroTV:




LINK VIDEO: http://www.youtube.com/watch?v=13Tzt-7pZoo


Menuduh Keikhlasan Para Relawan: Catatan Banjir Jakarta

Posted: 16 Jan 2014 08:43 PM PST


"Kerja tidak ikhlas memang buruk. Tapi yang lebih buruk lagi adalah menuduh orang lain tidak ikhlas...." (Abdullah Haidir)

Musibah banjir di Jakarta mendatangkan keprihatinan, namun juga meningkatnya solidaritas dan kepedulian. Hal ini dibuktikan dengan marak dibukanya posko-posko bantuan, dan juga turunnya para relawan langsung ke gelanggang untuk membantu evakuasi dan memberikan bantuan.

Beberapa tokoh politik juga terlihat mondar-mandir dan blusukan, menyapa warga, menguatkan hati dan tentu saja memberikan bantuan. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat lehernya saja untuk memasuki wilayah yang terendam lebih dalam.

Namun diantara itu semua, yang layak untuk dicermati adalah banyaknya komentar pedas yang menuduh mereka -partai politik- yang membuka posko hanyalah berniat pencitraan dan kampanye. Partai politik dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tuduhan ini bukan hanya bersliweran di media sosial seperti facebook atau twitter, namun juga media turut memanas-manasi keadaan entah sengaja atau tidak.

Mari kita simak salah satu contoh, bagaimana situs berita merdeka com menampilkan judul yang terlihat sangat subjektif: "Tahun politik, kader PKS datangi korban banjir Jakarta". Berikut penggalan awal dari tulisan tersebut :

2013 Merupakan tahun politik bagi partai politik. Sebab, tahun ini parpol akan berusaha mati-matian meningkatkan citranya agar dipilih oleh publik di Pemilu 2014. Bersamaan dengan itu, awal tahun politik Jakarta diterjang banjir. Sejumlah parpol pun berusaha menarik simpati warga dengan memberikan bantuan dan mendirikan posko. Hal yang sama juga dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sejumlah kader PKS mendatangi para korban banjir yang masih bertahan di rumahnya masing-masing untuk memberikan bantuan.

Maka tulisan di atas pun bersambut dengan tambah komentar yang hampir semuanya mencibir langkah yang telah dilakukan parpol tersebut. Ada yang menyebut dengan kemunafikan, tidak ikhlas, dan serangkaian tuduhan lainnya.

Entah gejala apa, tetapi yang seharusnya terjadi dalam situasi seperti ini adalah saling berlomba untuk berbuat yang terbaik dan membantu warga yang kesulitan, bukan saling menuduh niatan apalagi dengan berpangku tangan.

Saya yakin sepenuhnya, tuduhan dan cibiran tersebut tidak akan mengurangi kerja dan kinerja parpol yang dimaksud untuk melanjutkan kerjanya, sebagaimana cibiran dan komentar tersebut juga sama sekali tidak meringankan beban yang harus ditanggung warga.

Untuk menjelaskan cara berpikir yang semestinya, empat hal berikut ini setidaknya bisa kita pertimbangkan sebelum kita banyak berkomentar nyinyir terhadap didirikannya posko bantuan dari parpol peserta pemilu.

Pertama: Menuduh Keikhlasan 

Keikhlasan adalah nasehat bagi diri agar setiap kali beramal selalu ditujukan untuk meraih ridho ilahi. Keikhlasan sewajarnya ditujukan untuk diri sendiri melalui istighfar dan renungan dalam hati, agar niatan tidak terkotori dengan apapun. Keikhlasan adalah alat evaluasi diri, bukan senjata yang ditodongkan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan di hadapan kita. Begitulah generasi sahabat memberikan contoh pada kita, ketika terjadi parade sedekah dan amal kebaikan di antara mereka, tidak ada satupun komentar dari mereka bahkan dari Rasulullah SAW yang mempertanyakan keikhlasan mereka. Ketika Usman bin Affan menyedahkan banyak logistik peperangan, Rasulullah SAW memberikan apresiasi dengan menyatakan : "Setelah ini tidak ada lagi yang bisa mengganggu amalan Usman" .

Tidak diperbolehkannya kita menuduh keikhlasan, lebih mendalam lagi bisa kita ambil dari kisah bagaimana Usamah, prajurit kecintaan Rasulullah SAW yang membunuh seorang musuh setelah mengucapkan kalimat syahadah. Usamah beralasan bahwa ucapan tersebut hanya 'pencitraan', tipuan, dan tidak ikhlas mengucapkannya karena berharap selamat dari tebasan pedang. Apakah Rasulullah SAW sepakat dengan hal itu? Tidak dan sama-sekali tidak, beliau terdengar marah dan tidak suka, serta bertanya berulang-ulang kepada Usamah: "Apakah engkau sudah membelah dadanya? (hingga engkau tahu bahwa dia tidak ikhlas mengucapkannya?". Usamah takut dan menyesal dengan perbuatannya menuduh keikhlasan seseorang.

Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan,  apakah mereka yang mencibir keikhlasan mereka yang membantu korban banjir, telah membelah dada para relawan dan mengetahui isi hati mereka? Tidak sekali-kali tidak.

Kedua: Sejarah dan Kebiasaan, bukan Pahlawan Kesiangan

Tuduhan mencari kesempatan dalam kesempitan, kampanye di tengah keprihatinan musibah, adalah tuduhan yang teramat menyakitkan. Tuduhan seperti itu mungkin wajar jika ditujukan kepada mereka yang selama ini duduk-duduk saja saat terjadi bencana di nusantara ini. Mungkin ada memang satu dua tokoh atau ormas yang bak pahlawan kesiangan yang tiba-tiba saja muncul saat bencana dan diliput media, lalu hilang pada kesempatan berikutnya.Tapi apakah semua seperti itu? Tentu tidak. Bahkan sekalipun ada yang seperti itu, tetap saja masyarakat dan korban banjir menerima kemanfaatannya, meski tak seberapa.

Namun tuduhan itu menjadi tidak wajar bahkan aneh, karena parpol semacam PKS mempunyai track record penanganan bencana sejak lama. Dari mulai bencana Tsunami Aceh, gempa bumi padang, Jogjakarta, letusan Merapi, situgintung, kebakaran-kebakaran di pasar, tanah longsor karanganyar, dan setiap musibah lainnya, kader PKS senantiasa bersama masyarakat ikut terjun langsung dalam evakuasi dan bantuan pada korban atau pengungsi. Musibah dan bencana tak mengenal tahun politik, kapan saja bisa terjadi. Begitu pula PKS, kesiapan dalam penanganan bencana menjadi latihan dan kegiatan rutin kadernya, bahkan dibentuk unit P2B yaitu penanganan dan penanggulangan bencana.

Maka jika pada banjir Jakarta ini tiba-tiba muncul berdiri 72 posko PKS di seluruh Jakarta -sebagaimana diberitakan Republika Online, maka itu bukti kesiapaan, kebiasaan dan terlatihnya kader PKS dalam membantu masyarakat saat terjadi musibah melanda. Sekali-kali mereka bukanlah pahlawan kesiangan, karena pahlawan kesiangan tak memiliki kekuatan dan nafas panjang sebesar itu.

Ketiga: Berlomba dalam Kebaikan bukan Komentar apalagi Tuduhan

Saat ini yang dibutuhkan masyarakat khususnya korban banjir adalah siapa saja mereka yang siap dan mau berkorban, dari manapun dan siapapun mereka. Mereka yang terbaik adalah yang paling banyak kemanfaatannya bagi orang lain. Ibaratnya terjadi kebakaran, maka sudah selayaknya semua bergerak untuk segera memadamkan, siapa saja yang mampu layak untuk ditiru. Bukan malah sibuk menggerutu dan menyebar tuduhan ambigu.

Keempat: Penggunaan Identitas

Salah satu yang paling sering disorot adalah penggunaan identitas, khususnya kaos bagi relawan parpol saat melayani. Siapa saja yang turun di lapangan akan mendapati situasi yang sangat rumit dan membutuhkan penanganan yang cepat, solid dan terorganisir. Maka penggunaan identitas bukan hanya wajar bagi relawan, namun menjadi sebuah keharusan sebagai sebuah kesiapan bekerja dan siap bertanggung jawab. Para TNI, Polisi, SAR, PMI pun menggunakan identitasnya masing-masing, selain untuk kemudahan konsolidasi, juga menunjukkan kesiapan bekerja dan bertanggung jawab. Dengan penggunaan identitas, masyarakat berhak komplain dan tahu kemana harus protes saat terjadi kejadian, insiden atau hal-hal yang menganggu selama pelaksanaan evakuasi atau pemberian bantuan. Relawan tanpa seragam terkadang justru malah mengundang kerancuan pelaksanaan tugas di lapangan.

Akhirnya, tulisan ini bukan untuk membela relawan dari parpol, khususnya PKS, karena salah satu bukti keikhlasan adalah baik pujian maupun cercaan tak menyurutkan langkah untuk melanjutkan amal kontribusinya. Ini yang kita dapati dengan mudah pada relawan PKS, sejak dulu sering dikomentari saat menangani bencana di daerah manapun, tapi itu semua tak menyurutkan langkah, sampai saat ini setia melayani negeri. Dari mereka layak kita mengambil inspirasi.

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

*by Hatta Syamsuddin

-sumber: www.indonesiaoptimis.com



"He's a Dreamer" | Ungkapan Hati Seorang Isteri Caleg PKS

Posted: 16 Jan 2014 05:07 PM PST


Bismillah,
   
Dengan kalimat basmalah, suami saya, Muhamad Idrus, ayah dari empat anak lelaki, menerima amanah menjadi calon anggota DPR RI No. 4, dari PKS untuk Dapil III: Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu.
 
Saya sebagai istri cukup kaget dan agak shock ketika beberapa bulan lalu, hal itu terjadi. Apalagi, saat itu tengah terjadi gonjang-ganjing yang sempat membuat saya semakin apriori dan skeptis terhadap dakwah politik. Tapi, saya yakin semua ada alasannya. 

Life teaches me to be a realist. Tapi, bang Idrus beda. He's a dreamer. Ketika awal pernikahan (2002) dengan pede ia cerita kelak akan memiliki kendaraan dan rumah sendiri sebelum usia 27 tahun. Akan punya perusahaan besar dengan sekian banyak karyawan sebelum usia 30 tahun. Akan merenovasi rumah orang tua, membiayai umrah dan haji ortu, memberdayakan masyarakat Cilincing, khususnya Tanah Merdeka, membangun pabrik penyerap tenaga kerja, de el el.
 
Semua diungkapkan di usia 24 tahun, saat penghasilannya hanya dari usaha warnet, sekitar Rp 500.000/bulan, belum punya apa-apa, masih numpang, dan saya pada posisi diminta berhenti dari kerja yang berpenghasilan hampir 6 kali lipat penghasilannya.
 
Tapi, subhanallah, pelan-pelan semua impiannya terwujud. And being a very social person, ia melibatkan banyak orang dalam meraih mimpinya. Ia ingin sukses bersama. Ia selalu berinovasi dan memikirkan cara agar dapat memberi lebih banyak pada masyarakat. Dalam bentuk nyata.
 
Lebay? Menurut aku yang cenderung asosial, sih iya. Tapi, itulah bang Idrus dengan idealismenya. Always think about others.
 
Salah satunya, alhamdulillah bang Idrus telah mencetuskan budidaya jamur dan penyebaran bibit cabe untuk pemberdayaan warga, terutama kaum perempuan. Dan, di tengah pencapaian mimpi-mimpi tersebut, datanglah agenda baru dari PKS.
 
Bang Idrus dan saya sudah lama bergelut dengan aktivitas politik, dari jaman PK sampai sekarang, PKS. Insya Allah, keterlibatan kami murni karena dakwah, dan pemahaman bahwa politik adalah salah satu sarana dakwah, bukan sebaliknya. Tapi saat bang Idrus diamanahkan menjadi caleg, saya langsung istighfar.
 
Apalah artinya suami saya, sungguh belum pantas rasanya diusung oleh PKS dan bersanding dengan sosok lain. Resistensi diri muncul. Namun, amanah harus dijalankan, dan seperti biasa bang Idrus selalu berusaha total dalam menjalankannya.
 
Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kami berusaha mengambil dan memberi manfaat dari pencalegan ini, khususnya bagi diri pribadi:
 
1. Membuat kami menjadi pribadi Muslim yang berusaha lebih keras untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amalan harian. Lebih menjaga diri dari hal-hal yang makruh/syubhat, lebih berusaha untuk tawadhu, dan banyak hal lainnya. Karena amanah yang besar menuntut bekal ruhiyah yang besar pula. Dan sejujurnya, saya pribadi sampai saat ini masih berusaha "memantaskan" diri, bahkan untuk sekadar menjadi "bu caleg" (hadeuh, masih jauh banget nih...)
   
2. Mendidik masyarakat tentang politik. Insya Allah, there'll be no money politics, tidak ada janji dan aksi palsu semata menjelang Pemilu. Saya pribadi kaget saat mengetahui bahwa hal yang biasa bagi caleg selama ini untuk bagi-bagi uang demi dukungan.
 
Salah seorang tetangga dengan santainya meminta uang minimal Rp 20.000 saat diberi kalender dan booklet sebagai sarana pengenalan diri. Masya Allah, inikah potret politik Indonesia? Dengan uang Rp 20.000 tega menggadaikan masa depan bangsa?
 
Bang Idrus bertekad tidak akan memberi, bahkan mendekati money politics. Kemenangan bukan yang perkara dicari. Yang penting sekarang adalah memanfaatkan momentum untuk mengedukasi masyarakat tentang politik bersih. Politik yang, insya Allah, tulus bekerja untuk masyarakat, karena bagi kami tidak ada suatu pengorbananpun yang akan sia-sia. Semua adalah bagian dari ibadah. AYTKTM-lah.
 
3. Mengenal realitas masyarakat lebih dalam. Alhamdulillah, dengan terjun langsung ke masyarakat secara intens, bang Idrus bisa lebih memahami sekaligus memetik pelajaran bermanfaat. Seperti saat ia berkunjung ke rumah salah satu warga masyarakat yang sangat bersahaja, tapi anaknya di usia lima tahun sudah mampu mengkhatamkan Al Qur'an tiga hari sekali dan hafalannya jauh di atas kami berdua.
 
Atau, saat bertemu dengan mereka yang kurang beruntung, tapi tetap semangat dan positif dalam menjalani hidup. Membuat kita kembali merenung, "nikmat Allah yang mana yang kau dustakan?".
 
4. Menginspirasi pemberdayaan ekonomi dan pentingnya pendidikan. Berasal dari pinggiran Jakarta dan terbiasa berwirausaha sejak kecil, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kiprah bang Idrus. Suami saya berharap mampu memotivasi masyarakat untuk terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik, insya Allah.
   
Bekerja untuk masyarakat adalah keharusan. Jadi atau tidak jadi aleg bukan masalah. Yang penting adalah menjadikan momen pencalegan ini sebagai ladang ibadah semaksimal mungkin. Semoga Allah mengikhlaskan hati dan menerima amal kami yang hina dina bergelimangan dosa ini. Amin.
 
Terakhir, saya ingin mengatakan, di luar inkompetensi saya sebagai 'bu caleg', Muhamad Idrus adalah sosok yang, Insya Allah, tepat untuk menjadi anggota DPR. Untuk mengenal integritas dan rekam jejaknyanya lebih dalam, silahkan klik http://muhamadidrus.com/ atau follow akun twitter: @idrus28. Tak kenal, maka tak sayang, so please DO klik the link.

Terima kasih.
 
(Risma Neswati, ibu dari empat anak lelaki)


Didik Rachbini: Pendukung Jokowi di Sosmed 'Hama Demokrasi'

Posted: 16 Jan 2014 04:49 PM PST


Liputan6.com, Jakarta : Politisi PAN Didik J Rachbini mengecam para pendukung Jokowi di sosial media. Dia menyebut para pendukung Jokowi telah membela Gubernur DKI Jakarta itu secara membabi buta.

Kecaman itu bermula dari kicauan Didik melalui akun @DJRachbini soal banjir di Jakarta. Didik terlibat perdebatan panjang dengan akun @dr_tika.

"Jeng yg beresin pemimpin di wilayahnya, banjir tdk cukup diselesaikan dgn blusukan," demikian tulis Didik menanggapi kicauan-kicauan akun @dr_tika, sebagaimana dikutip Liputan6.com, Jumat (17/1/2014).

Dalam kicauannya, Didik mengatakan pada masa sebelum Jokowi, Gubernur Fauzi Bowo atau Foke telah membuat kanal banjir sebagai upaya menanggulangi banjir Jakarta. Namun, kala itu Foke tetap saja dicerca karena banjir masih terjadi di Ibukota.

"Jeng tadi sy tweet, foke+JK sdh bangun 23 km banjir kanal, banjir belum selesai. Foke dikritik keras. skrg apa?" tulis dia.

Perdebatan pun terus berlanjut hingga akhirnya muncullah akun @Palguna76. Akin ini menyebut Didik yang merupakan mantan rival Jokowi pada saat Pilkada Gubernur DKI 2012 silam sebagai pendendam.

Kicauan @Palguna76 itu kemudian dibalas oleh Didik. "Kenaifan pngikut ekstrim spt ini mlihat kritik sbg dendam.(ingat pengikut ekstrim, hama demokrasi)," balas Didik.

Didik menjelaskan, kritik yang dia lontarkan atas penanganan banjir di Jakarta itu berdasarkan hasil survei. Berdasarkan survei, warga Ibukota tidak puas dengan kinerja Jokowi terkait penanganan banjir.

"Sy sdh melakukan survei, masy puas thd gub dki utk pendidikan, kesehatan, dll. Tapi tdk puas thd dua hal: kemacetan, transportasi n banjir," tulis dia.

"Kritik berdasarkan survei ilmiah sdh sy release, ini diulang di twiterland. tp sy tahu yg menyerang spt semut, anti kritik sdh berkurang," sambung Didik. (Eks)

*sumber: liputan6
(sumber foto: google)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar